Cinky Priyanto Calon Ketua Umum HIPMI Pangandaran – Di tengah arus wirausaha yang semakin kompetitif, memiliki keberanian saja tidak cukup. Seorang pengusaha muda harus dibekali mentalitas level dunia—disiplin, sistematis, dan mampu beradaptasi dengan perubahan.
Itulah yang saya pelajari sejak awal perjalanan karier saya. Pengalaman bekerja di lingkungan profesional internasional dan membangun usaha dari nol di daerah mengajarkan satu hal penting: standar kerja tinggi adalah kebiasaan, bukan sekadar cita-cita.
Belajar Disiplin dari Sistem Kerja Internasional
Tahun 2015, saya memulai karier di sebuah perusahaan multinasional berbasis di India. Saya tidak langsung berada di kursi strategis, melainkan memulai dari bawah—sebagai staf sales.
Di sana, saya menemukan budaya kerja yang benar-benar berbeda.
- Setiap target jelas dan terukur
- Setiap progres dicatat dan dievaluasi
- Disiplin menjadi budaya, bukan perintah
Lingkungan ini membentuk cara berpikir saya:
Bahwa efisiensi bukan hanya tentang bekerja cepat, tapi bekerja terstruktur dan berbasis sistem. Bahwa teamwork bukan sekadar semangat kebersamaan, tapi peran yang jelas, terukur, dan saling melengkapi.
Pulang ke Daerah, Belajar Ulang dari Nol
Setelah kontrak kerja berakhir, saya menimba pengalaman di Jakarta dan Yogyakarta, sebelum akhirnya memutuskan pulang untuk membangun usaha dari Pangandaran.
Awalnya, saya kira pengalaman kerja di perusahaan internasional akan membuat segalanya lebih mudah. Nyatanya, tantangannya berbeda total:
- SDM masih terbatas
- Proses bisnis banyak yang informal
- Dokumentasi minim
- Bisnis lokal lebih mengandalkan relasi daripada sistem
Di sinilah saya belajar hal baru: standar tinggi bisa diterapkan, tetapi harus disesuaikan dengan konteks lokal dan dibangun perlahan tapi konsisten.
Jatuh bangun membangun Wireka Teknologi menjadi pengalaman yang membentuk saya sebagai pengusaha. Dari sana, saya belajar bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang disiplin.
Baca juga: Kepemimpinan Berlanjut, Tantangan Berubah: Saatnya Menjaga yang Sudah Terbangun
Pelajaran Ini Relevan untuk HIPMI Hari Ini
Sebagai Cinky Priyanto Calon Ketua Umum HIPMI Pangandaran, saya melihat HIPMI di tingkat kabupaten/kota menghadapi tantangan yang unik. Anggota HIPMI kaya potensi, tapi sistem organisasi sering bergantung pada inisiatif personal, bukan mekanisme yang mapan.
Jika HIPMI ingin naik level, kita harus membangun kebiasaan baru:
- Mapping anggota yang jelas – siapa ahli di bidang apa, siapa butuh mentor, siapa bisa jadi konektor bisnis
- Administrasi digital rapi – agar histori kegiatan dan kontribusi anggota terdokumentasi dengan baik
- Ruang kolaborasi nyata – bukan sekadar event, tapi saling bantu memenuhi kebutuhan bisnis anggota
- Budaya kerja sehat – rapat dengan agenda, hasil, dan tindak lanjut yang jelas
Langkah-langkah sederhana ini akan membangun mentalitas level dunia, meski kita bergerak dari daerah.
Mentalitas Level Dunia Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Saya datang ke HIPMI bukan membawa semua jawaban, tapi membawa pengalaman dan kebiasaan kerja yang terbukti membantu usaha bertahan.
Bagi saya, HIPMI bukan sekadar tempat berkumpul pengusaha muda.
HIPMI bisa menjadi tempat belajar, bertumbuh, dan melatih pola kerja yang siap menghadapi tantangan global.
Dan untuk mencapainya, kita tidak harus berada di kota besar.
Mentalitas level dunia bisa dimulai dari Pangandaran, dari HIPMI, dari kebiasaan kecil yang kita jaga bersama – Cinky Priyanto Calon Ketua Umum HIPMI Pangandaran.